Menurut Kantor Berita ABNA, seorang peziarah Belgia yang berpartisipasi dalam pawai Arbain tahun ini berkata, "Ibarat magnet, Imam Husain as telah menarik banyak manusia untuk mendatanginya dan mendekat. Tidak ada dorongan yang lebih kuat selain karena cinta saat jutaan manusia berjalan kaki menziarahi makam Imam Husain as."
Hujjatul Islam Sayid Mustafa, seorang dai berkebangsaan Maroko dalam wawancaranya dengan ABNA mengatakan, "Para peziarah Aba Abdillah datang ke ritus Arbain ini di Karbala untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menyembuhkan penyakit-penyakit maknawi mereka. Mereka percaya bahwa kita harus mendapatkan kebutuhan kita dengan menziarahi makam Imam Husain as. Karena bertawassul melalui cahaya suci ini Allah Swt. pasti akan menjawab pengharapan kita."
Pengajar agama yang aktif di lembaga pendidikan Islam di Belgia ini mengatakan tentang perasaannya ikut dalam pawai Arbain. "Bagaimana seseorang bisa mengekspresikan manisnya rasa madu?! Sulit untuk diungkapkan. Perjalanan Arbain berasal dari cinta dan kasih sayang untuk Imam Husain as dan tidak terlukiskan. Tanyakan siapa pun, dia mengatakan bahwa kita memiliki perasaan yang hebat dalam dirinya, hati dan jiwa yang tidak dapat dijelaskan ketika turut larut dalam longmarch Arbain ini." Bilangnya.
Hujjatul Islam Sayid Mustafa dalam menanggapi pertanyaan terkait elajaran apa yang bisa diambil dari revolusi Imam Husain as. Dia berkata, "Pelajaran keadilan, perlawanan terhadap penindasan, perang antara kebenaran melawan kepalsuan adalah pelajaran dari peristiwa epik Karbala. Ini bukan hanya pelajaran bagi Syiah dan Muslim, tetapi penegakan kebenaran dalam melawan kepalsuan menarik bagi semua pencari kebebasan di dunia. Manusia seharusnya tidak hanya membela keluarga dan umat beragama mereka, tetapi mereka harus mendukung semua yang tertindas, dan pesan-pesan ini disampaikan kepada kita melalui kebangkitan Asyura."
Lebih lanjut Sayid Mustafa mengatakan tentang pesan Arbain. Ia berkata, "Jalan dan pelajaran Imam Husain as dan pelajaran Nabi Muhammad saw bersama keluarganya adalah menjadi manusia dan jika kita bisa mengikuti jalan kemanusiaan, kita pasti sampai tujuan kita. Jalan kemanusiaan hanya ada di madrasah Muhammad dan keluarganya dan tidak ada yang lain selain jalan ini."
Pakar agama ini berkata tentang hubungan antara keindahan Arbain dan waktu turunnya wahyu. "Bayangkan perjalanan Arbain dari jutaan orang ini untuk mengunjungi tempat suci Imam Husain as ini adalah gambaran penyambutan umat manusia atas kedatangan Imam Mahdi afs. Seratus kali lebih banyak orang datang. Ketika Sahib al-Zaman afs datang dan mengatakan siapakah yang akan menjadi pengikutnya, maka yang hari ini lantang meneriakkan labbaika ya Husain adalah juga kelak yang menyahut labbaika ya Imam Mahdi afs."
Dia memperkenalkan tugas terpenting umat Islam di zaman sekarang untuk menyebarkan agama kebenaran dan moralitas yang baik dan murni dari Ahlulbait as dan berkata, "Ahlulbait as mengajari kita moralitas yang baik dan murni dan tugas kita adalah mengajarkan moralitas ini untuk Mempromosikan dunia yang damai. Kami membenci Islam ISIS dan darah dan pembunuhan; Perilaku ISIS dan teroris tidak berdasarkan Syariah. Mereka memperkenalkan agama melalui pembunuhan dan pembantaian." Jelas pakar ilmu syar'i ini.
Hujjatul Islam Sayid Mustafa lebih lanjut mengatakan tentang situasi berkabung umat Islam Syiah di Belgia, "Kami tidak memiliki masalah untuk berkabung di Belgia; Tentu saja, karena penyebaran Covid-19, pembatasan telah dibuat, tetapi kami memiliki husainiyah dan masjid, dan kami mengadakan upacara normal kami, dan kami tidak memiliki masalah dalam hal ini. Kami bahkan tidak memiliki masalah dengan saudara-saudara Sunni, mereka aktif di masjid-masjid dan pusat-pusat Islam mereka, dan kami aktif di masjid-masjid kami, Husainiyah dan pusat-pusat Islam. Tentu saja, beberapa tahun yang lalu, seseorang secara sistematis menyerang masjid kami dan membunuh seorang ulama bernama "Abdullah Dahdouh"; kafilah yang datang dari Belgia ke pawai Arbain juga diberi nama dengan nama syahid tersebut. Insiden teroris ini merupakan pengecualian, tetapi sekarang kami tidak memiliki masalah dan kami bahkan melakukan pawai duka di jalan-jalan."
Mengenai peran Syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Mohandes dalam membangun keamanan di Irak, dia mengatakan, “Apa yang mereka lakukan sangat besar; Mereka menghormati kaum Syiah sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun yang dapat diekspos kepada kaum Syiah saat ini; Ini benar tidak hanya di Irak dan Iran, tetapi juga di negara-negara lain. Kedua syahid ini melawan para penindas dengan darah mereka, dan dengan kesyahidan mereka, Islam dibantu dan dihidupkan kembali."
Ulama Belgia ini akhirnya menyatakan, "Insya Allah, suatu hari nanti Imam Zaman as akan muncul dan kami akan berdiri di samping Imam."
Longmarch Arbain adalah ritus yang berusia 14 abad yang sampai saat ini masih terjaga. Orang dengan jumlah yang sangat besar berjalan kaki dari berbagai kota di Irak menuju Karbala untuk memperingati Hari Arbain di pusara Imam Husain as tepat pada 20 Safar setiap tahunnya. Pejalan kaki harus menempuh jarak puluhan sampai ratusan kilo meter untuk mencapai Haram Imam Husain as di jantung kota Karbala.
Ritus longmarch Arbain ini, tidak hanya diikuti warga Irak, tapi juga melibatkan peziarah dari berbagai negara. Bagi peziarah dari luar negeri, berjalan kaki di mulai dari kota Najaf.